Senin, 28 Januari 2019

Curahan cinta seorang sufi
Ditulis oleh
Heri Supriatna
Tulisan ini sekedar tulisan motifasi diri untuk bisa lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta. Mudah-mudahan sipapun yang membacanya bisa mengerti dan memahami pesan yang terkandung di dalamnya.

Sumber cinta
Sumber cinta adalah hati dimana hati seorang manusia adalah rumit jika di uraikan hanya dengan beberapa faragrap kalimat saja, dan pasti hati akan bersih jika di awali dengan niat “karena Allah, untuk Allah, dan pada Allah”. Hati yang sudah mencintai Allah senantiasa aan ikhlas menerima apapun cobaan yang mendera. Dia akan senantiasa menghadapi semuanya dengan kesabaran.
Hari adalah suatu alat atau benda yang bersebelahan dengan lambung, hal tersebut membuktikan bahwa akal fikiran seimbang derajanya dengan nafsu keduniaan secara anatomi. Namun bagaimmana kita mengalahkan nafsu amarah dengan akal fikiran yaitu dengan cara kita mengosongkan perut (puasa) supaya perut mengecil dan hati membesar.  Atau bisa di sebut mengecilkan nafsu dan membesarkan akal fikiran (ijaj)
Namun, kita juga memerlukan nafsu, supaya kita ada keinginan untuk hidup, keinginan untuk berjuang dan keinginan untuk menikmati segala rahmat Allah yang telah di berikan kepada manusia. Bagaimana caranya kita mendaptkan rahmat dengan nafsu kita? Yaitu dengan cara meluruskan nafsu kita dengan syariat yang telah Allah tentukan yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Ditambah dengan ijma dan Qiyas.
Timbul pertanyaan, bagaimana cara kita untuk mengarahkan hati kepada Islam yang kaffah? yaitu dengan cara melatih hati dengan keikhlasan. Seperti dalam Al-Qur’an Surah Al-Ikhlas tidak tercantum sama sekali kalimat Ikhlas di dalamnya, hal itu nenunjukan bahwa yang namanya ikhlas adalah hal yang gaib dan sangatlah penting.
Surat Al-Ikhlas
 قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ

Artinya; Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

Ikhlas mencintai seperti dalam surat di atas ialah; Allah maha esa Allah tiada bandingannya, dan Allah di luar bayangan kita. Seakan-akan ayat pertama ini berpesan kepada kita bahwaa tiada seorang pun yang harus mendapat cinta dan keikhlasan hanya kepada Allah semata, Allah maha cinta, jika kita mencintai Allah bukan hanya Allah yang mencintai kita tapi segenap makhluknya akan mencintai kita.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Artinya : Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan
Korelasi ayat di atas dengan Surah Al-Ikhlas ayat dua ini adalah; Allah tempat bergantung segala sesuatu, Allah tempat kita mencurahkan hati yang fana, dan Allah maha  penolong dari segalaa penolong tida alasan kita meminta pertolongan selain hanya kepada Allah, jika kita memohon pertolongan kepada Allah maka Allah akan mengutus makhluknya untuk menolong kita.
Tiada ilmu yang dapat mendefinisikan khlas, karena ikhlas adalah ilmu yang setingkat dengan iman bahkan lebih dari pada itu, untuk orang yang memahami. Hanya saja apa yang harus dilakukan seseorang yang awam untuk mendapatkan Ikhlas dalam hatinya adalah dengan menjalankan apa yang di perintahkan oleh Allah. Yaitu yang ter tera dalam surah Adz Dzaariyaat ayat 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
Di dalam surah al-Ikhlas Allah menitik beratkan pada kita bahwa kita ikhlas meyakini diri, kita dari Allah dan untuk Allah. Hidup untuk Allah dan mati untuk Allah.
Syair cinta
Kata cinta sungguh menawan
Jika di dalami dan di maknai
Namun akan lebih indah
Jika cinta kita berikan
Kepada Allah semata
Cinta kepada manusia
Mungkin akan membawa petaka
Tatkala cinta itu membuat lupa
Kepada sang pencipta
Sepenting apakah cinta
Sebelum mengupas cinta kita juga perlu mendefinisikan penting atau kepentingan, agar dapat meradikalisasikan  pembahasan cinta yang menjadi kebutuhan setiap makhluk-Nya.
Kepentingan adalah sesuatu jalan untuk mencapai tujun, kata pepatah dimana bumi di pijak disana langit di jungjung. Maksudnya adalah kita berada di semesta Allah dan juga kita berada di tempat yang Allah ciptakan, dan Allah memberikan kepada kita satu dari 100 kenkmatan, kepada seluruh makhluknya. Karena kita hanya di beri satu pastilah kita harus berusaha untuk mendapatkannya.
Allah berfrman dalam Al-Qur’an Surat Al-Lail ayat 4
إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى
Artinya: Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.
Dalam ayat di sana ada kalimat penegasan bahwasannya “sesungguhnya” yang berarti usaha manusia dalam mencapai sesuatu sangat dan sangat beragam.
Ada dua jalan yang mereka pergunakan untuk mencapai tujuannya.
1.      Jalan kebaikan
Yaitu jalan yang di syariatkan oleh Allah SWT. yang tertera dalam Al-Qur’an dan sunnah nabi, di tambah dengan ijma dan qiyas.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Artinya: Tunjukanlah kepada kami jalan yang lurus
2.      Jalan keburukan
Yaitu jalan yang tentunya di pergunakan oleh orang-orang pendusta Agama.
Apa itu cinta? Cinta itu adalah sebuah perasaan suka yang berlebihan, yang tidak bisa di wakili oleh orang lain atau benda lain analoginya adalah ketika seseorang mencintai kekasihnya, maka tida hal lain yang bisa menggantikan kekasihnya tersebut.
Begitu pula cinta kita kepada Allah bagi orang yang mahabbah. Tiada yang bisa menggantikan sesuatu hal selain kepada-Nya. Allah menjadi tujunnya, Allah adalah tepat ia bergantung, meminta tolong, dan tempat berkeluh kesah.
Jadi, jika kitamenggambungkan kedua urayan di atas yakni “Sepenting apa cinta”. Maka dapat di tarik kesimpulan bahwa cinta itu sangatlah penting sekali. Guna, untuk hidup di zaman yang sangat memilikan ini. Hanya cinta yang murni yang mampuh bersaing dengan nafsu. Untuk mendapatkan cinta Allah. Karena dengan mendapatkan cinta Allah kita akan dicinta oleh makhluknya seperti para Wali, Habaib, Dan seseorang yang paling dicinta oleh semua makhluk-Nya adalah Rasulullah SAW.
Kita haruslah mencontoh kepada Makhluk-makhluk mulia tersebut, karena dengan hidup seperti mereka kita akan mendapatkan kemuliaan yang tiada tara. Seperti yang tersirat dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 5
أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Allah menyebutkan أُولَئِكَ yang berarti mereka (terjemah bebas) berarti kepada semua yang mendapat keberuntungan adalah orang yang istimewa. Karena hanya muslimlah yang mendapatkan keberuntungan tersebut. Yaitu orang-orang yang bertaqwa.
Siapakah orang yang bertaqwa tersebut? Yaitu yang menjalankan syariatnya dan menjauhi larangannya. Kita sudah mendapat contoh dari banyak wali-wali Allah, kita sudah pula mendapatan biografi seorang yang mulia akhlaknya. Untuk menjadi referensi kehidupan, namun kebanyakan dari kita mendustakan hal tersebut apalagi ketika matahari muncul dari barat.
Tanda kiamat sudah terlihat untuk orang yang berfikir, sekarang orang barat sangatlah superior dalam segala aspek keilmuan. seperti politik, ekonomi dan lainnya. Itu menujukan matahari yang terbit dari barat, miris. Banyak dari kita orang Islam mengikuti gaya barat, dalam hal berpakaian, gaya hidup, seks bebas dan lain sebagainya. Sampai kapan Islam akan rusak jika tidak di cegah dari sekarang.
Dan cara mencegahnya yaitu adalah mencintai Allah, mengembalikan kejayaan Islam pada abad 1-7 H. Abad dimana Islam memancarkan cahaya keemasannya (golden age of Islam). Belajar dari sejarah, menemukan jawaban dari sejarah dan mendapatkan solusi dari sejarah dilengkapi dengan ilmu Al-Qur’an.
Syair
Cinta itu indah
Cinta itu anugrah
Dan cinta itu adalah hikmah
Jika di tempatkan di tempat yang tertinggi
Yaitu Iman Islam dan Ihsan
Yang diawali dua kalimah syahadat

Bagaimana bentuk cinta yang di ridhai Allah
Bentuk cinta yang di ridhai Allah adalah kita mencintai Allah lebih dari pada kita mencintai seseorang kekasih. Ketika seseorang menjalin kasih dengan kekasihnya, pasti ada rasa saling mengikat, tidak ingin terpisahkan, ingin selalu bersama, ingin selalu menyelami cinta dan dunia terasa milik bersama.
Namun jika cinta terebut di arahkan kepada Allah. Akan ada kata-kata yang tidak bisa di ungkapkan oleh kata-kata. Dalam hati akan ada sesuatu yang akan segera meledak dan begitu terasa. Keharuan kebahagiaan kesenangan menyatu menjadi sebuah rasa yang baru. Yaitu Mahabbah dengan cara Taqarrub Illallah.
Dan bahwa rasa dari Mahabbah kepada Allah itu lebih nikmat dari makanan yang lezat dan enak disantap bareng keluarga. Dan Taqarrub kepada Allah lebih indah daripada pemandangan gunung dan lautan yang luas. Keindahan yang tergambarkan kepada hati sebagai tanda orang tersebut di terima imannaya oleh Allah.
Bagaimana jika kita menaggapi cinta antar manusia? Yaitu dengan mencintai karena Allah, bertemu dengan Allah, dan berpisah juga dengan karena Allah SWT.
Mencintai karena Allah kita bertemu dengan si dia, dan kita memulai rasa suka dengannya dan mulai mencintainya dengan meenjaganya, menasehatinya, mengarahkannya, dan memarahinya tatkala ia berbuat salah. Namun, pada zaman sekarang hal yang demikian sangatlah susah. Karena, kita bergelut dengan nafsu yang begitu besar pengaruhnya  terhadap kehidupan manusia dengan senjata media, seni, drama dan bahkan paham.
Realita zaman sekarang ketika bertemu dengan si dia malahan menjadi budak nafsu. Kita cinta padanya seolah-olah dia hanya milik aku dan aku miliknya. Padahal kita lupa bahwa dia adalah milik Allah. Allah berkuasa membalikan hatinya untuk membenci kita memusuhi kita bahkan membunuh kita dari belakang. Karena cinta tidak mustahil jika berubah menjadi benci. Masih mending perpisahan menjadi musibah bagi suatu pasangan. Yang lebih berbahaya adalah ketika satu pasangan terjerumus kelembah nista yaitu perzinahan. Bukan hanya benci yang di dapat melainkan caci maki dari orang yang terdekat akan melayang padanya. Orang yang di kenal dan menjadi harapan kita untuk mencurahkan isi hati akan mendadak menjauhi tinggalah mereka yang berdosa. Dan pastinya pekerjaan nista tersebut akan terwaris kepada keturunan kita kelak “Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya”
Bertemu dengan orang yang di cinta pastilah rasa bahagia akan mendarat kedalam  hati kita. Namun ketika bertemu apa yang hedak kita lakukan. Ada dua macam pekerjaan, ketika sepasang kekasih bertemu yaitu sajadah atau haram jadah, syukur atau kufur. Tinggal di pilih dan pastinya masing-masing pilihan aka nada buah atau hasilnya masing-masing.
Jika kita memilih sajadah yaitu dengan melakukan shalat istikharah dan menyerahkan segala urusan pada-Nya. Maka keberkahan akan masa depan dengan si dia akan menanti. Namun sebaliknya, jika kita memilih haram jadah pasti dosa dan ceoohan akan kita peroleh walaupun tidak langsung kita terima namun awal atau akhir akan kita rasakan.
Berpisah dengan orang yang tercinta pastilah sangat sakit yang terasa dan derita menjadi makanan setiap harinya bahkan mungkin seumur hidupnya. Orang yang memiliki sifat dengki hal tersebut akan menjadi sebuah dendam seumur hidupnya. Dapat di bayangkan jika kita menerima kedengkian dari seseorang saja sudah tidak nyaman apalagi banyak.
Namun, jika kita berpisah karena Allah dengan menerima takdir Allah dengan Ikhlas. Maka kebaikan akan mendekatinya dengan berfikir bahwa dia bukan orang yang baik baginya. Maka pastinya, Allah akan menggantinya dengan orang yang lebih baik. Insyaallah
Syair
Bentuk keindahan dari cinta
Tak akan pernah terlukiskan oleh kata
Namun bentuk dari cinta
Dapat di rasakan oleh hati yang ridu akan rahmat
Yang hterpancar dari keramatnya
Sosok yang di rindukan oleh segala makhluk

Seorang Sufi
Seorang sufi adalah seseorang yang sangat mendambakan dan sangat merindukan sosok tuhannya. Dia berani mati syahid sebagai syuhada agar dapat bertemu dengan penciptanya, dan duduk di sebelah-Nya bersama orang-orang yang shalih.
Seorang sufi, mencurahkan cintanya kepada Allah. Tanpa mengharap apapun kecuali ridha Allah. Contoh seperti Robi’ah Al-Adawiah. Cintanya murni hanya untuk Allah semata, ia tidak menikah karena takut dengan ia menikah dapat menurangi rasa cintanya kepada Allah.
Pernyataan Beliau “Ya Allah jika aku mencintaimu karena aku takut kepada neraka, maka masukanlah aku kedalamnya. Dan jika aku cinta kepadamu karena aku ingin masuk surge, maka jauhkanlah aku darinya”. Betapa mulianya beliau, ia mampuh untuk menciptakan cinta di dalam hatinya tanpa ada kepentingan kepada kenikmatan dan ketakutan yang otoriter dari Allah SWT.
Apakah kita bisa mengikuti jejak langkah beliau tentu bisa, dengan cara mahabbah yang benar-benar mahabbah kepada-Nya. Taqrub kepada-nya dan tiada alas an untuk menjauhi-Nya.
Namun kebanyakan dari kita masih banyak tuhan yang menjadi kebutuhan yang primer, ketika cinta harus bersyarat. Mencintai uang untuk keperluan; mencintai jabatan untuk exsistensi di masyarakat; mencintai seseorang kekasih untuk mengharap kasih sayangnya.
Banyak nama-nama seorang sufi yang meninggalkan karyanya untuk kita contoh dan seorang sufi yang terkenal yang di lahirkan di Indonesia Siapa yang tidak mengenal Hamzah Fansuri? Semua orang yang mengkaji sejarah, sastra dan Islam kawasan Asia Tenggara tidak dapat menyampingkan tokoh ini. Ia adalah sosok sufi dan penyair Melayu yang sangat berpengaruh pada masanya dan bahkan sampai beberapa abad setelahnya. Ia juga merupakan sosok ulama dan birokrat yang kritis terhadap penguasa. Namun, sejarah kehidupan tokoh ini masih diliputi oleh misteri. Sumber tempatan (traditional sources) abad ke- 17 M, seperti Hikayat Aceh, Adat Aceh, dan Bustan Al- Salatin, tidak sedikitpun menyinggung secara explicit mengenai tokoh ini. Demikian juga halnya dengan berbagai sumber luar, terutama karya- karya Eropa. Kondisi ini memaksa para peneliti terutama sejarawan, untuk merujuk lebih banyak kepada bukti –bukti inferensial (inferential proofs).
Namun, kondisi ini tidak mengurangi semangat para peneliti untuk melakukan kajian mengenai tokoh ini. Barangkali tidak berlebihan bila dikatakan bahwa dari perspektif sejarah, diantara alasan utama yang mendorong sejarawan untuk terus melakukan penelitian mengenai Hamzah Fansuri ialah adanya asumsi yang kuat bahwa tokoh sufi dan penyair ini telah memiliki peran dan pengaruh yang demikian besar di kawasan Asia Tenggara, khususnya di Aceh. Adalah sulit dibayangkan bahwa tanpa peran dan pengaruh yang signifikan ini, Hamzah Fansuri telah mampu membawa ajaran mistiko- filosofis wahdat al –wujud menjadi demikian populer di istana dan masyarakat luas akhir abad ke -16, dan paruhan pertama abad ke -17, terutama pada masa pemerintahan Iskandar Muda (w. 1636)
Mujahadah      : Perjuangan dan upaya spritual melawan hawa nafsu dan berbagai kecenderungan jiwa rendah (nafs).
Fanâ                : Penafian diri, atau peniadaan diri. Saat bersatu dengan Allah, manusia mengalami fanâ’ atau penafian diri. Inilah hilangnya batas- batas individual dalam keadaan kesatuan dengan Yang Maha Mutlak.
Baqâ’              : Bertahan, kesinambungan; pengalaman mistik tentang substansi, atau kehidupan bersama dan di dalam Allah SWT.
Ittihâd              : suatu tingkatan tasawuf yang di dalamnya sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Allah; suatu tingkatan tempat dimana sufi dan Allah telah berpadu menjadi satu.
Hulul               : Ajaran yang menyatakan bahwa Tuhan memilih tubuh –tubuh manusia tertentu untuk ia ambil tempat di dalamnya setelah sifat –sifat kemanusian yang ada dalam tubuh itu lenyap.
Syair
Begitu indah akhlakmu
Begitu terang wajahmu
Dan begitu mulianya dirimu
Engkau sebagai pewaris nabi
Dan engkau sebagai gambaran yang patut di contoh
Bisakah kami mencontoh dirimu
Bisakah kami belajar padamu
Dan bisakah kami mendapatkan berkah darimu
Pertanyaan yang harus di usahakan


Do’a
Ya Allah berilah kami umur yang panjang dan dapat memanfaatkan umur tersebut. Untuk kepentingan Agama-Mu Ya Allah.
Ya Allah utuslah seseorang yang dapat membawa kami kejalan yang di ridhai oleh-Mu Ya Allah.
Ya Allah utuslah seseorang yang sejalan dengan misi kami, yang mampuh menemani di kala senang dan mampuh  menghibur di kala sedih.
Ya Allah berikanlah kami jalan Mahabbah, supaya kami bisa bertaqwa kepadamu Ya Allah
Aamiin

Nb : Kita hidup di dunia adalah sebuah ujian, ujian dari penderitaan, ujian dari kebahagiaan, ujian dari kemiskinan dan ujian dari ke kayaan.
Ketika menderita, kita di uji apakah kita akan putus asa atau kita akan bangkit dari keterpurukan, putus asa tidak di syari’atkan oleh Allah. Jadi, ketka seseorang putus asa maka secara tidak langsung kita sudah menjauhi Islam.
Ketika bahagia, Allah menguji kita apakah kita akan mengingat Allah atau tidak, jika kita malah lupa kepada Allah karena kebahagiaan tersebut dan malah kufur, disanalah tauhid dan Akhlak kita hilang, niscaya laknat Allah mutlak buat kita.
Ketika miskin/susah, kita harusnya bersabar dan bisa lebih dekat dengan Allah seperti Rasulullah pemimpin termiskin di dunia.namun realita sekarang berbeda dengan contoh dari Rasul. Ia malah meminta rezeki selain kepada Allah dan menduakan Allah. Maka pasti ia termasuk orang dzalim.
Ketika kaya. Seharusnya kita ingat kepada maha pemberi dengan memberika sebagian rezeki kita kepada orang yang membutuhkan hal tersebut menandakan tanda sukur kita kepada Allah. Jika kita malah kikir dan menghinanya. Maka tidak beda kelakuan tersebut dengan qarun. Yaitu seseorang yang di lenyapkan kedalam bumi karena kesombongannya dengan harta.


Terimakasih penulis ucapkan kepada pembaca, mudah-mudahkan kita di pertemukann oleh Rahmat Allah.
Dan mudah-mudahan Allah selalu memberikan apa yang dinginkan lewat do’a dan zuhud kita terhadap syari’at dan taqarrub kita kepada Allah.

Aamiin