Curahan cinta seorang sufi
Ditulis oleh
Heri
Supriatna
Tulisan ini
sekedar tulisan motifasi diri untuk bisa lebih mendekatkan diri kepada sang
pencipta. Mudah-mudahan sipapun yang membacanya bisa mengerti dan memahami
pesan yang terkandung di dalamnya.
Sumber cinta
Sumber
cinta adalah hati dimana hati seorang manusia adalah rumit jika di uraikan
hanya dengan beberapa faragrap kalimat saja, dan pasti hati akan bersih jika di
awali dengan niat “karena Allah, untuk Allah, dan pada Allah”. Hati yang sudah
mencintai Allah senantiasa aan ikhlas menerima apapun cobaan yang mendera. Dia
akan senantiasa menghadapi semuanya dengan kesabaran.
Hari
adalah suatu alat atau benda yang bersebelahan dengan lambung, hal tersebut
membuktikan bahwa akal fikiran seimbang derajanya dengan nafsu keduniaan secara
anatomi. Namun bagaimmana kita mengalahkan nafsu amarah dengan akal fikiran
yaitu dengan cara kita mengosongkan perut (puasa) supaya perut mengecil dan
hati membesar. Atau bisa di sebut mengecilkan
nafsu dan membesarkan akal fikiran (ijaj)
Namun,
kita juga memerlukan nafsu, supaya kita ada keinginan untuk hidup, keinginan
untuk berjuang dan keinginan untuk menikmati segala rahmat Allah yang telah di
berikan kepada manusia. Bagaimana caranya kita mendaptkan rahmat dengan nafsu
kita? Yaitu dengan cara meluruskan nafsu kita dengan syariat yang telah Allah
tentukan yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Ditambah dengan ijma dan Qiyas.
Timbul
pertanyaan, bagaimana cara kita untuk mengarahkan hati kepada Islam yang kaffah?
yaitu dengan cara melatih hati dengan keikhlasan. Seperti dalam Al-Qur’an Surah
Al-Ikhlas tidak tercantum sama sekali kalimat Ikhlas di dalamnya, hal itu nenunjukan
bahwa yang namanya ikhlas adalah hal yang gaib dan sangatlah penting.
Surat
Al-Ikhlas
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ
Artinya; Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang
bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Ikhlas mencintai seperti dalam surat di atas ialah; Allah
maha esa Allah tiada bandingannya, dan Allah di luar bayangan kita. Seakan-akan
ayat pertama ini berpesan kepada kita bahwaa tiada seorang pun yang harus
mendapat cinta dan keikhlasan hanya kepada Allah semata, Allah maha cinta, jika
kita mencintai Allah bukan hanya Allah yang mencintai kita tapi segenap
makhluknya akan mencintai kita.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Artinya
: Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami
mohon pertolongan
Korelasi ayat di atas dengan
Surah Al-Ikhlas ayat dua ini adalah; Allah tempat bergantung segala sesuatu,
Allah tempat kita mencurahkan hati yang fana, dan Allah maha penolong dari segalaa penolong tida alasan
kita meminta pertolongan selain hanya kepada Allah, jika kita memohon
pertolongan kepada Allah maka Allah akan mengutus makhluknya untuk menolong
kita.
Tiada
ilmu yang dapat mendefinisikan khlas, karena ikhlas adalah ilmu yang setingkat
dengan iman bahkan lebih dari pada itu, untuk orang yang memahami. Hanya saja
apa yang harus dilakukan seseorang yang awam untuk mendapatkan Ikhlas dalam
hatinya adalah dengan menjalankan apa yang di perintahkan oleh Allah. Yaitu yang ter tera dalam surah Adz Dzaariyaat ayat 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
Artinya:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
Di
dalam surah al-Ikhlas Allah menitik beratkan pada kita bahwa kita ikhlas
meyakini diri, kita dari Allah dan untuk Allah. Hidup untuk Allah dan mati
untuk Allah.
Syair cinta
Kata cinta sungguh menawan
Jika di dalami dan di maknai
Namun akan lebih indah
Jika cinta kita berikan
Kepada Allah semata
Cinta kepada manusia
Mungkin akan membawa petaka
Tatkala cinta itu membuat lupa
Kepada sang pencipta
Sepenting
apakah cinta
Sebelum
mengupas cinta kita juga perlu mendefinisikan penting atau kepentingan, agar
dapat meradikalisasikan pembahasan cinta
yang menjadi kebutuhan setiap makhluk-Nya.
Kepentingan
adalah sesuatu jalan untuk mencapai tujun, kata pepatah dimana bumi di pijak
disana langit di jungjung. Maksudnya adalah kita berada di semesta Allah
dan juga kita berada di tempat yang Allah ciptakan, dan Allah memberikan kepada
kita satu dari 100 kenkmatan, kepada seluruh makhluknya. Karena kita hanya di
beri satu pastilah kita harus berusaha untuk mendapatkannya.
Allah
berfrman dalam Al-Qur’an Surat Al-Lail ayat 4
إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى
Artinya: Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.
Dalam ayat di sana ada kalimat penegasan
bahwasannya “sesungguhnya” yang berarti usaha manusia dalam mencapai sesuatu
sangat dan sangat beragam.
Ada dua jalan yang mereka pergunakan untuk
mencapai tujuannya.
1. Jalan kebaikan
Yaitu jalan yang di syariatkan oleh Allah
SWT. yang tertera dalam Al-Qur’an dan sunnah nabi, di tambah dengan ijma dan
qiyas.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ
الْمُسْتَقِيمَ
Artinya:
Tunjukanlah kepada kami jalan yang lurus
2.
Jalan
keburukan
Yaitu jalan
yang tentunya di pergunakan oleh orang-orang pendusta Agama.
Apa itu cinta? Cinta itu adalah sebuah
perasaan suka yang berlebihan, yang tidak bisa di wakili oleh orang lain atau
benda lain analoginya adalah ketika seseorang mencintai kekasihnya, maka tida
hal lain yang bisa menggantikan kekasihnya tersebut.
Begitu pula cinta kita kepada Allah bagi
orang yang mahabbah. Tiada yang bisa menggantikan sesuatu hal selain
kepada-Nya. Allah menjadi tujunnya, Allah adalah tepat ia bergantung, meminta
tolong, dan tempat berkeluh kesah.
Jadi, jika kitamenggambungkan kedua urayan
di atas yakni “Sepenting apa cinta”. Maka dapat di tarik kesimpulan bahwa cinta
itu sangatlah penting sekali. Guna, untuk hidup di zaman yang sangat memilikan
ini. Hanya cinta yang murni yang mampuh bersaing dengan nafsu. Untuk
mendapatkan cinta Allah. Karena dengan mendapatkan cinta Allah kita akan
dicinta oleh makhluknya seperti para Wali, Habaib, Dan seseorang yang paling
dicinta oleh semua makhluk-Nya adalah Rasulullah SAW.
Kita haruslah mencontoh kepada
Makhluk-makhluk mulia tersebut, karena dengan hidup seperti mereka kita akan
mendapatkan kemuliaan yang tiada tara. Seperti yang tersirat dalam Al-Qur’an
surat Al-Baqarah ayat 5
أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ
الْمُفْلِحُونَ
Artinya: merekalah yang mendapat petunjuk
dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Allah menyebutkan أُولَئِكَ yang berarti mereka (terjemah bebas) berarti kepada semua yang
mendapat keberuntungan adalah orang yang istimewa. Karena hanya muslimlah yang
mendapatkan keberuntungan tersebut. Yaitu orang-orang yang bertaqwa.
Siapakah orang yang bertaqwa tersebut?
Yaitu yang menjalankan syariatnya dan menjauhi larangannya. Kita sudah mendapat
contoh dari banyak wali-wali Allah, kita sudah pula mendapatan biografi seorang
yang mulia akhlaknya. Untuk menjadi referensi kehidupan, namun kebanyakan dari
kita mendustakan hal tersebut apalagi ketika matahari muncul dari barat.
Tanda kiamat sudah terlihat untuk orang
yang berfikir, sekarang orang barat sangatlah superior dalam segala aspek
keilmuan. seperti politik, ekonomi dan lainnya. Itu menujukan matahari yang
terbit dari barat, miris. Banyak dari kita orang Islam mengikuti gaya barat,
dalam hal berpakaian, gaya hidup, seks bebas dan lain sebagainya. Sampai kapan Islam
akan rusak jika tidak di cegah dari sekarang.
Dan cara mencegahnya yaitu adalah
mencintai Allah, mengembalikan kejayaan Islam pada abad 1-7 H. Abad dimana Islam
memancarkan cahaya keemasannya (golden age of Islam). Belajar dari sejarah,
menemukan jawaban dari sejarah dan mendapatkan solusi dari sejarah dilengkapi
dengan ilmu Al-Qur’an.
Syair
Cinta itu indah
Cinta itu anugrah
Dan cinta itu adalah hikmah
Jika di tempatkan di tempat
yang tertinggi
Yaitu Iman Islam dan Ihsan
Yang diawali dua kalimah
syahadat
Bagaimana
bentuk cinta yang di ridhai Allah
Bentuk cinta yang di ridhai Allah adalah
kita mencintai Allah lebih dari pada kita mencintai seseorang kekasih. Ketika
seseorang menjalin kasih dengan kekasihnya, pasti ada rasa saling mengikat,
tidak ingin terpisahkan, ingin selalu bersama, ingin selalu menyelami cinta dan
dunia terasa milik bersama.
Namun jika cinta terebut di arahkan kepada
Allah. Akan ada kata-kata yang tidak bisa di ungkapkan oleh kata-kata. Dalam
hati akan ada sesuatu yang akan segera meledak dan begitu terasa. Keharuan
kebahagiaan kesenangan menyatu menjadi sebuah rasa yang baru. Yaitu Mahabbah
dengan cara Taqarrub Illallah.
Dan bahwa rasa dari Mahabbah kepada Allah
itu lebih nikmat dari makanan yang lezat dan enak disantap bareng keluarga. Dan
Taqarrub kepada Allah lebih indah daripada pemandangan gunung dan lautan yang
luas. Keindahan yang tergambarkan kepada hati sebagai tanda orang tersebut di
terima imannaya oleh Allah.
Bagaimana jika kita menaggapi cinta antar
manusia? Yaitu dengan mencintai karena Allah, bertemu dengan Allah, dan
berpisah juga dengan karena Allah SWT.
Mencintai karena Allah kita bertemu dengan
si dia, dan kita memulai rasa suka dengannya dan mulai mencintainya dengan
meenjaganya, menasehatinya, mengarahkannya, dan memarahinya tatkala ia berbuat
salah. Namun, pada zaman sekarang hal yang demikian sangatlah susah. Karena,
kita bergelut dengan nafsu yang begitu besar pengaruhnya terhadap kehidupan manusia dengan senjata
media, seni, drama dan bahkan paham.
Realita zaman sekarang ketika bertemu
dengan si dia malahan menjadi budak nafsu. Kita cinta padanya seolah-olah dia
hanya milik aku dan aku miliknya. Padahal kita lupa bahwa dia adalah milik
Allah. Allah berkuasa membalikan hatinya untuk membenci kita memusuhi kita
bahkan membunuh kita dari belakang. Karena cinta tidak mustahil jika berubah
menjadi benci. Masih mending perpisahan menjadi musibah bagi suatu pasangan.
Yang lebih berbahaya adalah ketika satu pasangan terjerumus kelembah nista
yaitu perzinahan. Bukan hanya benci yang di dapat melainkan caci maki dari
orang yang terdekat akan melayang padanya. Orang yang di kenal dan menjadi
harapan kita untuk mencurahkan isi hati akan mendadak menjauhi tinggalah mereka
yang berdosa. Dan pastinya pekerjaan nista tersebut akan terwaris kepada
keturunan kita kelak “Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya”
Bertemu dengan orang yang di cinta pastilah
rasa bahagia akan mendarat kedalam hati
kita. Namun ketika bertemu apa yang hedak kita lakukan. Ada dua macam
pekerjaan, ketika sepasang kekasih bertemu yaitu sajadah atau haram jadah,
syukur atau kufur. Tinggal di pilih dan pastinya masing-masing pilihan aka nada
buah atau hasilnya masing-masing.
Jika kita memilih sajadah yaitu dengan
melakukan shalat istikharah dan menyerahkan segala urusan pada-Nya. Maka
keberkahan akan masa depan dengan si dia akan menanti. Namun sebaliknya, jika
kita memilih haram jadah pasti dosa dan ceoohan akan kita peroleh walaupun
tidak langsung kita terima namun awal atau akhir akan kita rasakan.
Berpisah dengan orang yang tercinta
pastilah sangat sakit yang terasa dan derita menjadi makanan setiap harinya
bahkan mungkin seumur hidupnya. Orang yang memiliki sifat dengki hal tersebut
akan menjadi sebuah dendam seumur hidupnya. Dapat di bayangkan jika kita
menerima kedengkian dari seseorang saja sudah tidak nyaman apalagi banyak.
Namun, jika kita berpisah karena Allah
dengan menerima takdir Allah dengan Ikhlas. Maka kebaikan akan mendekatinya
dengan berfikir bahwa dia bukan orang yang baik baginya. Maka pastinya, Allah
akan menggantinya dengan orang yang lebih baik. Insyaallah
Syair
Bentuk keindahan dari cinta
Tak akan pernah terlukiskan oleh kata
Namun bentuk dari cinta
Dapat di rasakan oleh hati yang ridu akan rahmat
Yang hterpancar dari keramatnya
Sosok yang di rindukan oleh segala makhluk
Seorang Sufi
Seorang sufi adalah seseorang yang sangat
mendambakan dan sangat merindukan sosok tuhannya. Dia berani mati syahid
sebagai syuhada agar dapat bertemu dengan penciptanya, dan duduk di sebelah-Nya
bersama orang-orang yang shalih.
Seorang sufi, mencurahkan cintanya kepada
Allah. Tanpa mengharap apapun kecuali ridha Allah. Contoh seperti Robi’ah
Al-Adawiah. Cintanya murni hanya untuk Allah semata, ia tidak menikah karena
takut dengan ia menikah dapat menurangi rasa cintanya kepada Allah.
Pernyataan Beliau “Ya Allah jika aku
mencintaimu karena aku takut kepada neraka, maka masukanlah aku kedalamnya. Dan
jika aku cinta kepadamu karena aku ingin masuk surge, maka jauhkanlah aku
darinya”. Betapa mulianya beliau, ia mampuh untuk menciptakan cinta di
dalam hatinya tanpa ada kepentingan kepada kenikmatan dan ketakutan yang
otoriter dari Allah SWT.
Apakah kita bisa mengikuti jejak langkah
beliau tentu bisa, dengan cara mahabbah yang benar-benar mahabbah kepada-Nya.
Taqrub kepada-nya dan tiada alas an untuk menjauhi-Nya.
Namun kebanyakan dari kita masih banyak
tuhan yang menjadi kebutuhan yang primer, ketika cinta harus bersyarat.
Mencintai uang untuk keperluan; mencintai jabatan untuk exsistensi di
masyarakat; mencintai seseorang kekasih untuk mengharap kasih sayangnya.
Banyak nama-nama seorang sufi yang meninggalkan karyanya untuk kita
contoh dan seorang sufi yang terkenal yang di lahirkan di Indonesia Siapa yang tidak mengenal Hamzah Fansuri? Semua orang yang mengkaji
sejarah, sastra dan Islam kawasan Asia Tenggara tidak dapat menyampingkan tokoh
ini. Ia adalah sosok sufi dan penyair Melayu yang sangat berpengaruh pada
masanya dan bahkan sampai beberapa abad setelahnya. Ia juga merupakan sosok
ulama dan birokrat yang kritis terhadap penguasa. Namun, sejarah kehidupan tokoh
ini masih diliputi oleh misteri. Sumber tempatan (traditional sources) abad ke-
17 M, seperti Hikayat Aceh, Adat Aceh, dan Bustan Al- Salatin, tidak
sedikitpun menyinggung secara explicit mengenai tokoh ini. Demikian juga halnya
dengan berbagai sumber luar, terutama karya- karya Eropa. Kondisi ini memaksa
para peneliti terutama sejarawan, untuk merujuk lebih banyak kepada bukti
–bukti inferensial (inferential proofs).
Namun, kondisi ini tidak mengurangi semangat para peneliti untuk
melakukan kajian mengenai tokoh ini. Barangkali tidak berlebihan bila dikatakan
bahwa dari perspektif sejarah, diantara alasan utama yang mendorong sejarawan
untuk terus melakukan penelitian mengenai Hamzah Fansuri ialah adanya asumsi
yang kuat bahwa tokoh sufi dan penyair ini telah memiliki peran dan pengaruh
yang demikian besar di kawasan Asia Tenggara, khususnya di Aceh. Adalah sulit
dibayangkan bahwa tanpa peran dan pengaruh yang signifikan ini, Hamzah Fansuri
telah mampu membawa ajaran mistiko- filosofis wahdat al –wujud menjadi
demikian populer di istana dan masyarakat luas akhir abad ke -16, dan paruhan
pertama abad ke -17, terutama pada masa pemerintahan Iskandar Muda (w. 1636)
Mujahadah : Perjuangan dan upaya spritual melawan
hawa nafsu dan berbagai kecenderungan jiwa rendah (nafs).
Fanâ : Penafian diri, atau peniadaan
diri. Saat bersatu dengan Allah, manusia mengalami fanâ’ atau penafian diri.
Inilah hilangnya batas- batas individual dalam keadaan kesatuan dengan Yang
Maha Mutlak.
Baqâ’ : Bertahan, kesinambungan; pengalaman
mistik tentang substansi, atau kehidupan bersama dan di dalam Allah SWT.
Ittihâd : suatu tingkatan
tasawuf yang di dalamnya sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Allah; suatu
tingkatan tempat dimana sufi dan Allah telah berpadu menjadi satu.
Hulul : Ajaran yang
menyatakan bahwa Tuhan memilih tubuh –tubuh manusia tertentu untuk ia ambil
tempat di dalamnya setelah sifat –sifat kemanusian yang ada dalam tubuh itu
lenyap.
Syair
Begitu indah akhlakmu
Begitu terang wajahmu
Dan begitu mulianya dirimu
Engkau sebagai pewaris nabi
Dan engkau sebagai gambaran yang patut di contoh
Bisakah kami mencontoh dirimu
Bisakah kami belajar padamu
Dan bisakah kami mendapatkan berkah darimu
Pertanyaan yang harus di usahakan
Do’a
Ya Allah berilah kami umur yang panjang dan dapat memanfaatkan umur
tersebut. Untuk kepentingan Agama-Mu Ya Allah.
Ya Allah utuslah seseorang yang dapat membawa kami kejalan yang di
ridhai oleh-Mu Ya Allah.
Ya Allah utuslah seseorang yang sejalan dengan misi kami, yang mampuh
menemani di kala senang dan mampuh
menghibur di kala sedih.
Ya Allah berikanlah kami jalan Mahabbah, supaya kami bisa bertaqwa
kepadamu Ya Allah
Aamiin
Nb : Kita hidup di dunia adalah sebuah
ujian, ujian dari penderitaan, ujian dari kebahagiaan, ujian dari kemiskinan dan
ujian dari ke kayaan.
Ketika menderita, kita di uji apakah kita
akan putus asa atau kita akan bangkit dari keterpurukan, putus asa tidak di
syari’atkan oleh Allah. Jadi, ketka seseorang putus asa maka secara tidak
langsung kita sudah menjauhi Islam.
Ketika bahagia, Allah menguji kita apakah
kita akan mengingat Allah atau tidak, jika kita malah lupa kepada Allah karena
kebahagiaan tersebut dan malah kufur, disanalah tauhid dan Akhlak kita hilang,
niscaya laknat Allah mutlak buat kita.
Ketika miskin/susah, kita harusnya bersabar
dan bisa lebih dekat dengan Allah seperti Rasulullah pemimpin termiskin di
dunia.namun realita sekarang berbeda dengan contoh dari Rasul. Ia malah meminta
rezeki selain kepada Allah dan menduakan Allah. Maka pasti ia termasuk orang
dzalim.
Ketika kaya. Seharusnya kita ingat kepada
maha pemberi dengan memberika sebagian rezeki kita kepada orang yang
membutuhkan hal tersebut menandakan tanda sukur kita kepada Allah. Jika kita
malah kikir dan menghinanya. Maka tidak beda kelakuan tersebut dengan qarun.
Yaitu seseorang yang di lenyapkan kedalam bumi karena kesombongannya dengan
harta.
Terimakasih penulis ucapkan kepada pembaca,
mudah-mudahkan kita di pertemukann oleh Rahmat Allah.
Dan mudah-mudahan Allah selalu memberikan
apa yang dinginkan lewat do’a dan zuhud kita terhadap syari’at dan taqarrub
kita kepada Allah.
Aamiin